Categories

Featured Post

Rumus Mengubah Angka Ke Huruf di Excel tanpa Macro VBA dan Addin

Ketika suatu saat Bapak/Ibu Guru akan membuat nilai raport, kwitansi atau apa saja yang berhubungan dengan angka yang akan kita konversi k...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Total Pageviews

Search This Blog

Newsletter

Logo

Logo
Logo SDN Cigintung

Business

Comments

Sunday, August 11, 2013

KURIKULUM YANG PERNAH DITERAPKAN DI INDONESIA


Jika kita hitung sejak tahun 1945 hingga tahun 2013 atau sudah 67 tahun lebih, pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  (Kemendibud) sudah 11 kali melakukan pergantian kurikulum. Dengan rincian sbb :
  1. Kurikulum 1947 yang disebut Rencana Pelajaran Rinci Dalam Rencana Pelajaran Terurai 1947-1964 (17 tahun)
  2. Kurikulum 1964 Rencana Pendidikan Dasar (4 tahun)
  3. Kurikulum 1968 Kurikulum Sekolah Dasar (6 tahun)
  4. Kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (1 tahun)
  5.  Kurikulum Sekolah Dasar (9 tahun)
  6. KCBSA (Kurikulum Cara Belajar Siswa Aktif) tahun 1984 (10 tahun)
  7. Kurikulum 1994 (3tahun)
  8. Revisi Kurikulum 1994 (7 tahun)
  9. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004 (2 tahun)
  10. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 (7 tahun)
  11. Kurikulum 2013

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia, Mohammad Nuh, mengklaim Kurikulum 2013 memiliki beberapa keunggulan dibandingkan kurikulum KTSP tahun 2006 (kompas.com 11 Maret 2013). Keunggulan itu, antara lain, pertama, jika menurut Kurikulum KTSP mata pelajaran ditentukan dulu untuk menetapkan standar kompetensi lulusan, maka Kurikulum 2013 pola pikir itu dibalik.

Kedua, kurikulum baru 2013 memiliki pendekatan yang lebih utuh dengan berbasis pada kreativitas siswa. Kurikulum baru memenuhi tiga komponen utama pendidikan, yaitu pengetahuan, keterampilan dan sikap.

"Ke depan, kreativitas yang menjadi andalan. Dalam Kurikulum 2013 ditekankan pada penguatan karakter," kata Nuh.
Ketiga, pada kurikulum baru didisain berkesinambungan antara kompetensi yang ada di SD, SMP hingga SMA.

Dan dalam situs kemdiknas.go.id, menyebutkan, pemerintah sudah melakukan tiga persiapan untuk mengimplementasikan Kurikulum 2013. Pertama, penyiapan buku induk untuk pegangan guru dan murid, yang berbeda kontennya.  Kedua, pelatihan guru secara bertahap. Jika implementasi dimulai untuk kelas satu, empat di jenjang SD dan kelas tujuh di SMP, serta kelas 10 di SMA/SMK. Dan, melakukan tata kelola di tingkat satuan pendidikan.

Program pergantian kurikulum sah-sah saja dilakukan jika memang dibutuhkan untuk memuat dunia pendidikan Indonesia semakin berkembang. Apalagi jika program dari kurikulum itu bisa membuat guru lebih bersemangat dan profesional dalam mengajar dan bisa membuat pelajar menjadi lebih bergairah dalam belajar dan akhirnya menghasilkan output yang benar-benar sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.

Namun tidak bisa dipungkiri juga bahwa pergantian kurikulum yang tergesa-gesa, tanpa suatu kajian mendalam yang melibatkan pelaku pendidikan seperti guru, dan juga tanpa adanya evaluasi terlebih dahulu terhadap kurikulum sebelumnya, maka sudah pasti tujuan atau program dari kurikulum yang baru itu tentunya akan sia-sia.

Pemerintah sepertinya selalu melakukan kesalahan yang sama dalam  penerapan kurikulum sejak tahun 1945 hingga 2013 ini. Bagaimana tidak, sebanyak 10 kurikulum (terakhir kurikulum 2006) yang sudah pernah dilaksanakan di Indonesia dengan umur yang berbeda itu ternyata tidak pernah dilakukan evaluasi pencapaian hasil terhadap kurikulum yang berlaku sebelumnya.

Contohnya, Kurikulum KTSP 2006 yang awal kelahirannya memiliki nasib yang hampir mirip dengan Kurikulum 2013, walau dengan skala kontroversi yang jauh lebih kecil. KTSP lahir sebagai kurikulum pengganti Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), kurikulum yang dipakai sebelumnya. Jika KTSP terancam hanya berumur enam tahun, maka KBK memiliki takdir yang lebih tragis, hanya berumur dua tahun saja.

Tragisnya, meski berumur enam tahun, ternyata KTSP belum sepenuhnya dipahami oleh guru-guru di Indonesia. Seminar dan workshop di berbagai daerah untuk menunjang peningkatan kualitas guru serta pemahaman guru akan KTSP itu sendiri sering dilakukan dan tentu menyedot anggaran yang besar.

Evaluasi terhadap Kurikulum 2006 pun belum dilakukan. Apakah Kurikulum 2006 itu efektif atau tidak, apa kelebihan dan kekurangannya, apa keberhasilannya apa kegagalannya, dan bagaimana kesimpulannya. Hasil evaluasi penerapan kurikulum lama itu sangat penting untuk menjadi panduan dalam penyusunan serta implementasi untuk kurikulum baru.

Namun Mendikbud kini sudah membuat Kurikulum 2013 dan akan diterapkan mulai  Juli 2013 di seluruh sekolah di Indonesia, tanpa evaluasi Kurikulum 2006.

Hal ini jelas mengisyaratkan bahwa pemerintah Indoensia tidak bijaksana dalam melakukan pergantian kurikulum. Ketidakbijaksanaan pemerintah itu bisa mengganggu dunia pendidikan Indonesia. Masa depan bangsa tentu akan menjadi taruhannya jika kurikulum diterbitkan tanpa melalui proses penyusunan yang bijak dan matang dan tanpa adanya evaluasi kurikulum sebelumnya. Berikut berita yang saya baca dari http://kupang.tribunnews.com

0 comments:

Post a Comment